Kritik Buat Pendidikan di Indonesia
Dikirim: December 22nd, 2005 | Oleh: Riyogarta | Kategori: Opini | 35 Komentar »Menarik sekali membaca tulisan Adi W. Gunawan berjudul Born to be a Genius but Conditioned to be an Idiot dan Sekolah Dirancang Untuk Menghasilkan Orang-orang Gagal. Kedua tulisan ini benar-benar bisa menggambarkan mengapa sistem pendidikan sekolah di Indonesia tidak bisa menghasilkan SDM yang diharapkan. Saya sendiri sering berdiskusi mengenai hal ini bersama teman-teman sejawat, waktu itu saya hanya punya keyakinan bahwa kegagalan sistem pendidikan di Indonesia karena terlalu banyaknya mata pelajaran yang harus dikuasai selama 12 tahun sekolah. Selain itu juga mutu guru yang lebih memilih metoda “menanamkan rasa takut” kepada siswa-siswinya agar mau belajar atau mengerjakan pekerjaan rumah. Selebihnya adalah kurangnya praktek di kelas dasar dan menengah mengenai bagaimana berbicara dan mengemukakan pendapat dengan baik dan benar.
Saya ingat betul ketika membahasa mengenai kepahlawanan Pangeran Diponegoro dalam pelajaran sejarah di SMA. Saat itu saya hanya mempermasalahkan dua hal dan ingin sekali berdiskusi mengenai hal itu. Pertama, saya katakan apa alasannya Pangeran Diponegoro itu bisa masuk dalam kategori pahlawan nasional kalau toh motivasi perjuangan yang dia lakukan ternyata hanya gara-gara pembangunan rel kereta api yang melewati tanah makam leluhurnya. Yang kedua, bagaimana nasib proyek pembangunan rel kereta api tersebut setelah perang diponegoro selesai, apakah dilanjutkan atau tidak. Jawaban dari guru sungguh mengecewakan, dan ketika saya debat hasilnya adalah: saya dikeluarkan dari kelas karena katanya saya mengacaukan pelajaran sejarah
Atau ketika saya berpendapat dalam “kursus singkat P4″ mengenai pemberontakan G30S/PKI. Yang saya tanyakan dan ingin diskusikan waktu itu adalah masalah kebenaran sejarah. Saya bilang dengan mengutip apa yang dikatakan Napoleon yang kurang lebih bunyinya (persisnya saya sudah lupa), “Sejarah itu hanyalah sebuah kesepakatan yang dibuat oleh pihak yang menang”. Jawaban yang diberikan –lebih tepat disebut ancama– adalah”, Kamu akan saya buat tidak lulus P4 kalau tetap ngeyel mempermasalahkan hal tersebut!” Semenjak itu pula yang saya lakukan hanyalah mendengar dan menulis pelajaran P4 yang disampaikan … hiks.
Banyak sekali hal-hal yang membuat saya tidak puas dengan sistem pendidikan di Indonesia. Misalnya dengan pelajaran matematika yang ternyata menurut Adi W. Gunawan, dan saya setuju, sangat penting dalam pembangunan konsep diri. Tetapi yang terjadi adalah rasa takut kepada guru matematika yang secara umum terlihat “kejam.” Matematika bukannya dibuat menjadi pelajaran yang menarik tetapi lebih kepada sesuatu yang harus dipelajari dengan pola ditaktor.
Ada beberapa hal yang bisa disimpulkan, baik dari pengalaman pribadi ketika saya mengecap pendidikan maupun setelah saya membaca kedua artikel karya Adi W. Gunawan diatas.
- Pelajaran yang paling dan sangat penting untuk anak diawal masa sekolahnya sebenarnya hanyalah 3M, yaitu membaca, menulis dan menghitung. Pelajaran lain ditambah ketika 3M sudah dikuasai dengan baik benar.
- Janganlah terlalu membebani anak sekolah (khususnya SD) dengan mata pelajaran yang sudah banyak itu dengan hasil akhir yang harus bagus semua. Yang paling penting menurut saya adalah matematika dan bahasa ditambah dengan pelajaran moral (tidak harus Pancasila). Karena kita juga tidak mengharapkan orang pintar yang tidak memiliki moral.
- Penjurusan mulai dilakukan lebih awal, tidak di kelas 2 SMA seperti saat ini, tetapi dimulai sejak SMP. Jadi, ketika seseorang menginjak bangku SMA, dia seharusnya sudah dijuruskan sesuai bakat yang dimiliki. Disinilah peran seorang guru, khususnya guru BP.
Semasa saya SMA sich guru BP kerjanya hanya melerai kalau ada perkelahian, dan saya donkol sekali ketika saya ditertawakan karena ketika ditanya apa cita-cita saya dan saya menjawab ingin jadi presiden - Harus ditanamkan bahwa penjurusan dibuat bukan didasari oleh kecerdasan seorang siswa. Hingga kini saya masih merasakan adanya image bahwa yang dijuruskan ke IPA adalah orang-orang pintar dengan nilai rapor yang bagus. Yang agak lemah otaknya di IPS saja. Apakah begitu ? Saya kira dan saya yakin baik IPA dan IPS bukan masalah kecerdasan, tetapi masalah minat dan bakat.
- Peraturan pendidikan juga harus adil ketika pelajar lulus dari SMA. Jangan sampai, lulusan IPA bisa mengambil jatah kuliah anak-anak lulusan IPS, tetapi lulusan IPS tidak bisa mengambil jatah kuliah lulusan IPA. Nggak fair sama sekali!
- Sejak mulai SMP, guru-guru harus lebih menanamkan bahwa mata pelajaran itu seharusnya dimengerti, bukan dihapalkan. Tentunya, guru-guru juga harus bisa mengimplementasikannya dalam kegiatan mengajar seperti jangan membuat soal-soal ulangan yang jawabannya adalah hapalan dsb.
Memang, saya juga mengalami sendiri, bahwa pelajaran 12 tahun itu lebih kepada pelajaran menghapal dibandingkan pelajaran untuk dipahami dan dimengerti.< /i> - Hilangkan sistem ranking. Saya cenderung hanya memilih satu orang yang terbaik untuk setiap kelas. Rangking hanyalah membuat orang semakin tidak percaya diri (khusunya bagi mereka yang mendapat rangking-rangking akhir) dan hal ini akan memancing mereka untuk membuat perkumpulan anak-anak pintar dan anak-anak bodoh.
- Terakhir, cobalah untuk memberikan pendidikan kepada siswa agar berani berbicara, mengemukakan pendapat baik lisan maupun tulisan dengan baik dan benar. Ini sangat penting untuk kehidupan mereka dimasa yang akan datang.
Akhir kata, selamat Hari Ibu …. gak nyambung banget deh …
berkomentar pada jam 6:59 pm
tanggal 23 December 2005
Memang sih, untuk yang nilainya bagus, maka mereka jadi PD dan memiliki konsep diri, tapi untuk mereka yang nilainya rendah akan semakin minder dan kehilangan harga diri.
Untungnya waktu saya SD masih mencicipi cara belajar yang berorientasi pada proses bukan sekedar hafalan, khususnya matematika. Masih kenal buku “djembatan berhitung” :D
Mudah-mudahan sistem pendidikan kita bisa segera membenahi diri. Amin
berkomentar pada jam 11:39 pm
tanggal 27 December 2005
iya, saya juga kaget BANGET pas pertama kali menginjakkan kaki di aussie. saya merasa, pelajaran2 disana itu gampang sekali :oops:. maksudnya, saya compare workload anak2 yg kuliah di indo dan anak2 yg kul di aussie. disini, workloadnya gak terlalu banyak, dibandingkan di indonesia. bahkan ada yg bilang, satu mata pelajaran di indo yg diajarin selama satu semester itu sebenarnya terdiri dari 2 atau malah 3 mata pelajaran yg ada di aussie. bisa dibayangin gimana “numpuk”nya…
dan saya emang sadar, kalo di indo kita terlalu diforsir untuk bisa semuanya!! jadinya gak ada yg bener2 ditekuni, sehingga kita hanya mengetahui dasar2nya dari bidang2 itu.. tanpa mengetahui secara detail…
sedangkan di negara lain, murid2nya disuruh untuk fokus pada bidang yang mereka minati… jadi mereka akan mempelajari bidang tsb secara detail..
berkomentar pada jam 11:18 am
tanggal 24 February 2006
berkomentar pada jam 9:27 pm
tanggal 11 July 2006
eh…. bener bgt.
gw nih, nyang baru lu2s SMA. hah…. rasanya lega bgt. coz selama sekolah, di kepala gw itu penuh dengan kata2. ngapain juga gw pelajarin ni semua, toh g semua guna buat hidup gw nanti.
berkomentar pada jam 4:05 pm
tanggal 13 January 2007
Yth :
Bapak Presiden dan wakil Presiden
Sebelum nya kami minta maaf jikalau ada kata-kata yang kurang berkenan dihati, kami tetap mendakung Bapak-bapak untuk menjadi orang Nomor satu di Negara Indonesia yang kami cintai, namun kami juga ingin memiliki pemimpin yang sangat bertanggung jawab. kapankah negara ini akan makmur dan sejahtera seperti yang bapak-bapak janjikan waktu kampanye dulu.
Yang lebih memprihatinkan lagi, disaat negara ini lagi banyak musibah, namun kenapa para anggota dewan kehormatan yang duduk di kursi DPR malah mendapatkan kenaikan gaji. padahal daripada buat nambahin gaji mereka, lebih baik untuk membangun kembali negara yang selalu tertimpa musibah ini.
Yth Bapak Presiden beserta wakil, sering saya melihat di televisi dalam sidang begitu banyak para dewan kehormatan malah tertidur atau malah SMSan sama teman-teman nya. apakah mereka serius mendengarkan dan turut memikirkan bangsa ini yang sudah akan hancur.
Sekarang ini BBM sudah terlanjur naik, dan banyak rakyat yang kelaparan dimana-mana, apakah para angota dewan ikut kemikirkan nasib mereka…???
saya sangat Prihatin pada negara ini yang selalu banyak musibah dan masalah paska terbunuh nya para teroris.
semoga Tuhan mengampuni dan melindungi bangsa ini.
Amin…:((:((:((:((
berkomentar pada jam 8:45 pm
tanggal 13 January 2007
Ehem … buat mas Tamun bin Jama … kayaknya komennya gak nyambung deh ama topik posting ….

Lagian salah alamat Mas, saya bukan presiden/wapres .. kenal juga gak tuh hehehe
berkomentar pada jam 9:34 am
tanggal 1 February 2007
coba lihat website pembelajaran yang satu ini
http://WWW.ANDRIEWONGSO.COM
berkomentar pada jam 6:57 pm
tanggal 13 February 2007
Ehem….. posting yang luar biasa dan semangat luar biasa.
Cuma memang kasihan kami yang masih belajar pake “batu-tulis” jadi ngak pernah bisa baca lagi tulisan yang pernah dibuat, atau untuk membaca harus nunggu giliran karena buku cetaknya terbatas.(habis SD s/d SMA sekolah di-”pinggiran” Indonesia bung, ke sekolah saja sudah hal yang mewah untuk kami)
Tapi diatas segalanya kami harus bersyukur masih mendapat “pembelajaran” yaitu “keterbatasan” bukan menjadi “pembatas”.
Menurut saya justru salahnya adalah kita mau “dididik” bukan “diajar”, kita mau dan cukup puas untuk “dididik”.
PR bung sebagai pendidik (dosen red) untuk mencoba memperbaikinya, jangan membuat PR yang terlalu banyak, karena siswa anda masih harus “belajar” hal lain yang lebih buanyak.
Slamat berjuang.
berkomentar pada jam 10:43 pm
tanggal 13 February 2007
heeee …. kebetulan Aku juga jarang (hampir gak pernah malah) ngasih tugas ke mahasiswa
berkomentar pada jam 8:36 am
tanggal 8 March 2007
bener banget semua.
gue stuju n asyik aja denger komentar dari temen-temen yang setanah sebendera. kita semua kudu bangkit.
pendidikan seminimal mungkin bukan buat bisnis. ini jangan ampe dicampur adukin. pendidikan dijagad sana sedang bangkit sodara-sodara, sayangnya, para “pahlawan tanpa tanda jasa” kite lagi ke asikan ngajar sambil molor boo!!! ngajar pake cara lama, jaman kompeni. yang dibahas materi itu-ituuuuuuu aja.
gue salah satu orang yang nyesel masa lalu gue pailit.
tapi gue yakin ini semua punya harapan.
coba gitu untuk guru-guru ku tersayang. ganti donk kacamatanya. jangan lagi kaca mata DOLLAR, smangat!!!!!!!!;):((:((
berkomentar pada jam 8:36 am
tanggal 22 March 2007
he-eh! saya juga ngerasain banget sejak SD-SMU mpe sekarang udah kuliah! pendidikan yang saya dapet sejak SD-SMu hanya sedikit banget, bahkan bisa dibilang its nothing. bukannya ga cinta tanah air ya, tapi sistem pendidikan kita emang payah banget! coba kita liat negara maju kayak Jepang, walaupun mereka bisa dikategorikan sadis buat masalah pendidikan formal (buat saya sih sadis), tapi itu memang sudah budaya mereka, dan dengan mempertahankan hal tersebut, mereka sekaligus dapat mempertahankan budaya mereka juga. coba bandingan dengan indonesia. sistem pendidikannya aja masih ngadopsi, udah gitu tiap ganti menteri pendidikan, sistem pendidikan juga ikutan ganti. gimana ga ribet!
jangankan dengan negara lain. jarak yang jauh banget bisa kok kita lihat di tanah air tercinta. seperti, nilai standar UN yang diambil dari sekolah dengan nilai tertinggi, sedangkan untuk teman-teman kita di daerah, bisa mendapatkan bangunan yang layak untuk belajar aja udah bersyukur banget. prihatin banget dengan pendidikan di indonesia. kalo udah gini, salah satu harapan adalah para pendidik yang berkualitas. yang mampu membantu para siswa untuk mngembangkan minat, bakat, dan karakter mereka. ganbatte ya!(semangat ya!)
berkomentar pada jam 11:12 am
tanggal 5 July 2007
sayah pernah menggugat guru yang ngajar PPKn dulu, bab Pancasila.
eh, sayah dikecam.. wakakaak..
betewe, sayah link postingannya yah.. :D
berkomentar pada jam 12:32 am
tanggal 19 July 2007
hwaa..setuju banget tuh. kebetulan saya pernah diajar langsung ma pak adi. dia bilang bukan kita yang bodoh, tapi kondisi nya aja yg ngebentuk qta jd bodoh..
btw, kira2 topik apa ya yg skrg ni lg hot2nya di dunia pendidikan ? butuh bahan buat skripsi ni..
:D
bantuin dong.. thanks before
berkomentar pada jam 11:25 am
tanggal 30 July 2007
bneeeeer bgt,saya skarang kul disalah satu universitas negri di Indonesia.kenapa ya INDONESIA g mniru sistem pendidikan di Singapura.disana jelas dididik manusian n generasi penerus yang berkembang sesuai minat n bakatnya. dan yang sangat saya sayangkan kenapa tiap berganti menteri pendidkan berganti juga sistem pendidikan di negara ini. sungguh disayangkan:((:((
berkomentar pada jam 11:29 am
tanggal 30 July 2007
ha…..ha….ha. saya kira setelah saya tamat dari SMA saya lepas dari ilmu yang namanya FISIKA, tetapi kenapa mas ih ada. kata dosen2 itu adalah matakuliah fakultas.kapan saya lepas fisika,ternyata baru tahun 2 bisa lepas.itulah pendidikan
berkomentar pada jam 6:23 pm
tanggal 11 August 2007
menurut aq pendidikan di indonesia terlalau menuntut n terlalu ingin menyamakan dgn negara lain bgs sih tp klu dlht lg kondisi pengajar n lingkungan sekolah di daerah blm sepenuhnya memenuhi syarat jgn melihat keadaan dikota aja tp lht di dlm kota klu dah sempurna baru menerapkan sistem kesetaraan nyambung engga sichh,,,,
>-
berkomentar pada jam 6:26 pm
tanggal 11 September 2007
oii..ada yang tau passwordnya hp gw ga?
berkomentar pada jam 9:31 pm
tanggal 24 September 2007
menurut saya, sistem pendidikan di indonesia seperti gado2, sehingga kebanyakan hasilnya pun juga gado2. banyak lulusan2 yang bekerja tidak sesuai dengan kompetensinya…
berkomentar pada jam 2:21 pm
tanggal 6 November 2007
Pendidikan???:):):):):)
:-\\”:-w;)[-(:)>-/:):o8-|:x:d/
Gila! kalo mau biacara soal pendidikan di Indonesia, ini memang udah jadi hal yang sangat sensitif. Saya sendiri sebagai seorang pelajar di salah satu SMA terbaik di nusantara merasa sangat bingung dan heran melihat pendidikan di Indonesia. Definisi orang PINTER di negara kita sangatlah tidak jelas. PINTER di negara kita, artinya harus bisa menguasai seluruh materi ilmu pengetahuan yang diajarkan secara sempurna. Padahal, semua orang itu mempunyai kelebihan masing-masing yang sangatlah berbeda dan bervariasi.8-|8-|
Sayangnya, negara kita itu lebih mentingin aspek akademis untuk menilai seberapa besar orang dapat didefinisikan sebagai orang yang PINTER. Padahal, pada kenyataannya di luar sana, sumber daya manusia kita kalah hanya gara-gara kemampuan praktek di lapangan yang sangat kurang. Seharusnya penilaian yang sangat linier terhadap aspek akademis ini segera dibenahi oleh pemerintah. Sebelum negara kita semakin tertinggal dari negara lain di dunia inii.
berkomentar pada jam 6:44 pm
tanggal 9 January 2008
Pendidikan Indonesia itu ribet. Mata duitan bgd.Mainnya amplop”an teruz. Budaya korupsi aja udah tertanam di lingkungan pendidikan. Pantas saja korupsi sekarang udah jd kyk hobby. Hayo….siapa yg hobi korupsi????
Pendidikan gag harus didapat dr lembaga formalitas saja. Pendidikan dpt kita dptkan dr berbagai hal. Hikmah sr suatu peristiwa,tindakan yg kita lakukan juga secara otomatis mendidik kita.Gag krasa yach….:d .
Produksi dr pendidikan Indonesia selam 9 tahun (yg wajib aja) masi bermasalah,,knapa sie mereka gag tanya qt” dulu yg bener” uda ngrasain proses jalannya pendidikan di Indonesia..
Butuh saia tak????????
berkomentar pada jam 2:12 pm
tanggal 15 March 2008
Benar!!!
Lagipula seharusnya IPA dan IPS itu berdasarkan minat. Bukan berdasarkan angka-angka menjemukan yang ercantum di rapor-rapor menyebalkan.
berkomentar pada jam 2:58 pm
tanggal 19 March 2008
pendidiakn di indonesia bermasalah karena adanya lulusan yang hanya sekedar lulus tanpa mementingkan moral
berkomentar pada jam 7:05 pm
tanggal 8 April 2008
pada ngmong apa ta??? ko aq ga nge-Donk….
….. <:-P …..he he he
berkomentar pada jam 11:37 am
tanggal 15 April 2008
so menurut mas,…sistem pendidikan mana yang baik; klo qta mencontoh negara maju mis: jepang, jerman,us,france,Inggris?..any idea? and reason of course. Trims b4!
Audy
berkomentar pada jam 5:13 pm
tanggal 21 May 2008
cari’in donk makalah tentang budaya pendidikan di Indonesia…!!!
berkomentar pada jam 8:35 pm
tanggal 28 September 2008
baik disini saya akan berbicara mengenai Pendidikan Pancasila. Tolong jelaskan obyek Material yang bersifat non-Eptimis dan tolong jelaskan?
berkomentar pada jam 12:47 pm
tanggal 6 January 2009
saya mohon izin untuk kopas artikel “kritik pendidikan di indonesia”. Karena perasaanku saat ini sedang merasa bahwa pendidikan di indonesia tidak adil,…..
berkomentar pada jam 4:42 am
tanggal 28 March 2009
komen2 yg bagus… apa yg bs kita lakukan u/ pendidikan indonesia yaaaa……………?
berkomentar pada jam 2:33 am
tanggal 25 April 2009
berkomentar pada jam 7:10 pm
tanggal 30 April 2009
waahhh ini dia wacana buat orang2 cerdas,
SELAMAT buat KALIAN yang tergugah membaca kritik ini..
tapi mungkin ga, kita bisa ngerubah sistem pendidikan Indonesia yang udah kacau ini???
Singapore, Malaysia n negara2 tetangga laennnya aja nih, di SDnya udah ada penjurusan tau’!!! jadi belajarnya lebih FOKUS!!!!
ayo kita wujudkan sistem pendidikan Indonesia yang Lebih EFEKTIF!!!
tapi?? kita harus muLai dari mana??
korupsi??
Lapangan kerja??
atau FKIPnya??
yang pake’ KBK, KTSP, sbnernya sih udah pengen nyerempet kesana tapi guru2nya yang ga mau maju..
aaahhh kacau deh INDONESIA nih!!!!
berkomentar pada jam 10:09 pm
tanggal 30 April 2009
Kita terlalu sering mendengar keluhan-keluhan tentang pendidikan,.. Lalu apa yang seharusnya kita lakukan..??!!
berkomentar pada jam 2:46 pm
tanggal 24 August 2010
Tinggal tunggu aja BOM waktunya …
Pendidikan di Indonesia akan HANCUR !!!
Tiap tahun tidak tambah baik, JUSTRU tambah buruk …
Klo mo ngatasi gampang, ANAK yg sudah tidak minat sekolah, ga usah di sekolahin aja dari pada nambah masalah di sekolah. Krn di Indonesia ini masih terjadi pemaksaan pendidikan, seolah-olah anak harus sekolah dan harus sekolah. tapi faktanya walaupun sekolah tetap aja BLO’ON karena yaaa balik lagi, dia udah tidak minat sekolah.
Apalagi ditambahin dengan adanya dana-dana gratis sekolah kek, BOS kek, dan sebagainya … membuat ORTU semakin tidak peduli dengan pendidikan anaknya. Karena ORTU tidak merasa “RUGI” (alias tidak ngeluarin uang buat bayar SPP).
Lalu yg ngluarin uang siapa ???
hehehe … “NEGARA” dong, makanya negara ini RUGI terus, krn membiayai orang2 yang tidak bisa menjamin masa depannya. Hahahahaha …. ibaratnya membiayai orang yang tidak punya tangan dan kaki, oya tambah lagi OTAKnya juga lemout !!! Xoxoxoxoxox …
berkomentar pada jam 8:24 am
tanggal 19 May 2011
bagus ya postingnya,
bagus juga komennya, seneng deh liat banyak orang peduli dengan kondisi negaranya.
iya, sumpah…ada yang salah dengan sistem pendidikan di negara kita
sekolah pada dasarnya cuma digunakan sebagai jalan mencari transkrip nilai dan gelar yang diminta perusahaan2
moga aja bapak2 yang ada di kantor penerintahan suatu hari nanti sadar kalo paradigma pendidikan sekarang uda bergeser
berkomentar pada jam 10:24 am
tanggal 22 May 2011
Karena kita di brainwash klo habis menamatkan pendidikan kita harus kerja di sama orang. bukan menciptakan lapangan kerja untuk orang lain
berkomentar pada jam 10:58 am
tanggal 3 January 2012
semoga saja pendidikan di indonesia akan segera maju